Oleh Husain Heriyanto[1]
ABU WAFA’ : PENGEMBANG TRIGONOMETRI
PENGANTAR
Khurasan merupakan sebuah wilayah yang banyak melahirkan
dan membesarkan sarjana Muslim yang masyhur.
Propinsi yang terletak di negeri
Persia itu (sekarang Iran) memberikan kontribusi besar bagi kejayaan peradaban
Islam klasik melalui tokoh-tokoh ilmuwan, filsuf, sufi seperti Umar Khayyam,
al-Ghazali, Jabir ibn Hayyan, Nashiruddin al-Thusi, dan Abu al-Wafa’. Sufi terkenal al-Ghazali dimakamkan di daerah
Khurasan ini, tepatnya di kota Thus, Iran bagian
Abu al-Wafa’ lahir
pada 1 Ramadhan 328 H bertepatan dengan 10 Juni 940 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Yahya bin
Ismail bin al-Abbas Abu al-Wafa’ al-Buzjani.
Sebagai seorang astronom, Abu Wafa’ pindah ke Irak guna meneliti gerak
bintang di pusat-pusat observatorium di sana, dan menetap di Baghdad sampai
meninggal pada Juli 998 M.
Karya-karya Abu al-Wafa’ di bidang
astronomi dan matematika cukup banyak, namun sayangnya banyak yang telah
hilang. Komentar-komentar kritis yang
cukup tajam dari Abu Wafa’ terhadap karya-karya matematika dan astronomi Yunani
juga banyak yang tak berbekas lagi.
Meski pun demikian, karya Abu Wafa’ yang berjudul Al-Kamil telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, salah satu diantaranya oleh Carra
de Vaux dalam bahasa Perancis pada tahun 1892.
Buku ini mirip dengan kitab klasik terkenal Almagest, yaitu
sebuah buku besar yang disusun oleh Claudius Ptolemeus yang diterbitkan di
Alexandria (Iskandarsyah) tahun 140 SM.
Buku textbook ini berisi pengetahuan astronomi kuno dan
menguraikannya berdasarkan pandangan geosentrisme.
Sebagai astronom, Abu Wafa’ juga berhasil menerangkan teori quadrature
parabola, volume parabola, dan ruang penuh dalam astronomi. Quadrature parabola adalah suatu
parabola di mana sudut pada bumi yang dibentuk oleh garis hubung antara
planet-bumi dan matahari-bumi = 90o.
Ia juga membahas garis tengah bayang-bayang (diameter of shadow).
PENGEMBANG TRIGONOMETRI
Sebagaimana umumnya sarjana Muslim
klasik, selain menguasai astronomi, Abu al-Wafa’ juga mahir dalam
matematika. Menurut Natsir Arsyad dalam Ilmuwan
Muslim Sepanjang Sejarah (1989), jasa utama Abu Wafa’ sebenarnya terletak
pada pengembangannya yang lebih jauh terhadap trigonometri. Dalam trigoniometri sferis (bidang
lengkung), ia berhasil menyempurnakan teorema-teorema Menelaus yang disebut
“Rule of the Four Magnitudes” (Aturan Empat Besaran), yakitu Sin a : Sin c = Sin A:1 , dan teorema
tangen tg a : tg A = Sin b : 1. Dari rumus-rumus ini, Abu Wafa’ mengambil
kesimpulan berupa teorema baru : Cos c =
Cos a. Cos b. Penguasaan Abu Wafa’
terhadap trigoniometri sferis sangat membantunya dalam perhitungan-perhitungan
astronomi, termasuk penemuannya di atas tentang jalan ketiga gerak bulan.
Abu Wafa’ memperkenalkan konsep tangen, kotangen, secan,
cosecan ke dalam trigoniometri, meski pun sejarawan lain menganggap bukan hanya
Abu Wafa’ sendiri yang telah berjasa.
Menurut Ajram dalam The Miracle of Islamic Science (1996), Abu
Wafa’ telah berupaya menggunakan aljabar dan artimatika untuk penyelesaian
persoalan geometri pada abad ke-10 M, jauh sebelum Descartes menggunakannya
pada abad ke-17 M. K. Ajram (1996)
menyatakan bahwa manual aritmatika dasar yang dibuat oleh Abu Wafa’ sangat
bermanfaat bagi pengembangan geometri.
Karya Abu Wafa’ sedemikian praktis sehingga Ronan menyatakannya sebagai
‘karya yang mengalahkan prestasi Yunani’ dalam aritmatika dan trigonometri
(dalam C.A. Ronan, Science:Its History and Development Among the World’s
Culture’s, 1982).
Beberapa karya atau penemuan Abu al-Wafa’ yang orisinal dan
cukup signifikan terhadap pengembangan trigonometri adalah sebagai
berikut. Pertama, ia menemukan
rumus penjumlahan sinus, yaitu : Sin (A
+ B ) = Sin A. Cos B + Sin B. Cos
A. Dari rumus ini, Abu Wafa’ juga
melahirkan rumus penjumlahan yang lain, yaitu : (1) Cos (A + B) = Cos A.CosB – Sin A.Sin B , dan
(2) Tg (A + B) = (Tg A + Tg B) /(1 – Tg A.Tg B).
Kedua, Abu Wafa’
juga menemukan dua buah rumus untuk setengah sudut dalam perhitungan
trigonometri, yaitu 2 Sin2 ½ A = 1 – Cos A ; dan
2 Cos2 ½ A = 1 + Cos A
Ketiga, ia pun
menemukan rumus sudut ganda, yaitu : Sin
2 A = 2 SinA.Cos A yang dari sini lahir rumus-rumus : Cos 2 A = Cos2A
– Sin2A = 2 Cos2 A – 1 = 1 – 2 Sin2 A
Di luar jasanya terhadap astronomi
dan trigonometri, Abu al-Wafa’ berhasil memecahka persoalan aljabar, yaitu persamaan
pangkat empat. Dalam komentarnya
terhadap karya al-Khwarizmi, Buku Kesimpulan dari Proses Kalkulasi untuk
Paksaan dan Persamaan (al-Jabr wal Muqabala), Abu Wafa’
menyelesaikan persamaan X4 + pX3 = q dengan jalan
perpotongan satu parabola dan sebuah hiperbola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar